Konsep akal manusia bagaikan gajah dan penunggangnya, gajah itu sebagai akal dan penunggangnya sebagai hati nurani. Seringkali ketika gajah berbelok, si penunggang membiarkannya untuk berbelok hingga melenceng jauh dari tujuan sebenarnya. Akal menyuruh kita untuk melanggar tetapi hati tidak sepakat dengan itu, namun tanpa pengendalian diri kita hanya akan mengikuti hawa nafsu walaupun hati sebenarnya enggan untuk mengikuti. Jangan hanya menjadi penunggang gajah tanpa menguasai teknik untuk menungganginya yang hanya akan berujung kepada kesesatan.
Bagaimana cara paling ampuh untuk mengendalikan diri sendiri? Semua itu dimulai dari keinginan kita untuk mengendalikan diri, lalu gunakanlah teknik untuk berdamai dengan diri sendiri -yang sudah saya tulis di artikel lainnya- dengan benar. Ketika kita sudah bisa memahami diri sendiri dengan baik dan benar seperti penunggang yang mempelajari sifat gajahnya, secara tidak langsung kita sudah mulai mengambil kendali diri sendiri. Jangan berharap bahwa hal ini mudah dan cepat karena itu kita membutuhkan kesabaran ekstra. Ketika kita melakukan sedikit kesalahan yang berujung kepada terjerumusnya kita pada keburukan untuk kesekian kalinya, kita akan mengulangi proses itu. Coba saja lihat orang berenang yang sudah mengeringkan bajunya, bagaimana jika ia kembali lagi menceburkan diri ke kolam baik sengaja maupun tidak? Tentu ia akan basah kembali dan ketika beranjak keluar kolam pastinya ia akan kembali mengeringkan badannya. Apakah perumpamaan ini masuk akal? Sama juga halnya dengan pecandu narkoba yang berusaha untuk berhenti tetapi ia tidak dapat menahan rasa candu sehingga kembali lagi terjerumus dalam dunia narkoba. Lantas kenapa terjadi hal seperti itu?
Jawabannya cukup mudah dan dapat dijelaskan. Dalam otak setiap manusia terdapat cairan dopamin yang berfungsi untuk membentuk rasa candu terhadap hal yang kita senangi, tentunya hal tersebut terjadi secara spontan dan tidak dapat diprediksi. Jadi pada dasarnya kita tidak bisa mengatur kadar rasa candu yang kita rasakan karena otak merekam rasa senang kita secara spontan. Paham kan? Walaupun sebenarnya kita tidak suka untuk mencuri tetapi ketika kita merasa bahagia dan senang lantaran mendapatkan hasil dari curian tersebut tentu cairan dopamin akan merekamnya dalam otak sebagai candu yang tentu dapat terjadi lagi sewaktu waktu, pastinya kejadian tersebut akan berulang ulang hingga kita mulai jenuh dan akhirnya membencinya. Tentu hal ini juga berlaku untuk hal baik yang kita lihat, dengar maupun kita lakukan. Pengendalian diri disini sangatlah penting supaya cairan dopamin dalam otak tidak salah rekam, maksudnya disini adalah rekam candu terhadap keburukan yang kita lakukan walaupun hanya sekali tanpa disengaja.
Sedikit ini saja terlebih dahulu, mungkin akan ada banyak revisi pada kesempatan selanjutnya.
Have a nice reading.
blog nya bagus, ada unsur2 ilmu kesehatan jga di dalam nya, tpi di benak saya muncul pertanyaan nih, kenapa ibarat nya harus gajah dan penunggangnya, bukan nya gajah sangat jarang untuk di tunggangi? Alasan nya ap? Apakah ada makna tersirat didalamny?, dan knpa gak ibaratkan kuda & penunggang nya, kn lebih lazim
BalasHapusSaya mengambil perumpamaan gajah bukan karena ia sering ditunggangi oleh manusia, hanya saja karena saking jarangnya gajah untuk ditunggangi, kenapa? Karena gajah itu sulit dikendalikan tidak seperti kuda yang memang tugas pokoknya dikendalikan oleh manusia, sama halnya seperti akal dan hati yang butuh waktu agar keduanya sinkron. Jika gajah berbelok bukan karena kendali manusia, bahkan kebanyakan penunggangnya hanya mengikuti gajah sembari mencari cari alasan supaya ia percaya gajah. Berbeda dengan kuda yang belokannya harus diatur oleh penunggang.
HapusTapi, menurut saya jika gajah itu bertemu dengan tuan yg tepat, pasti antara gajah dan tuan nya itu bisa sinkron, apakah itu sama hal nya dgn akal dan hati, jika bertemu dgn pribadi yg baik akan lebih mudah sinkron?
HapusBanyak faktor yang dapat mempercepat sinkronasi antara mereka, salah satunya adalah pembiasaan untuk dikendalikan oleh penunggang seperti para penunggang gajah di Kamboja. Sebagai penunggang kita harus kerap kali memperhatikan gajah yang kita tunggangi mulai dari makanannya, kesehatannya hingga kenyamanannya. Jika semua aspek penyebab sinkronisasi antara keduanya sudah kita benahi, lambat laun penunggang akan dapat mengendalikan hewan tunggangannya. Walaupun terkadang gajah juga melakukan kesalahan.
HapusKamu bilang sebagai penunggang kita harus kerap kali memperhatikan gajah yg kita tunggangi mulai dari makanannya dan kenyamanannya, kalau di bawakan ke hati dan akal, apa yg harus kita perhatikan agar hati dan akal menjadi lebih mudah sinkron?
HapusSalah satu hal yang dapat kita lakukan adalah belajar dalam artian belajar dari memperhatikan lingkungan sekitar dan itu semua kembali kepada prinsip hidup. Baik dan buruknya pasti dapat dinilai oleh hati kita tetapi tidak semua akal akan melakukan tindakan yang tepat. Maka dari itu pembiasaan sangatlah penting setelah mempelajari. Bukan hanya tahu tetapi tidak bertindak, tetapi mengetahui dan melakukan tindakan kemudian menjadi kebiasaan.
HapusOkeh, big thanks
BalasHapusSalam
Cillin