Menurut pepatah, seseorang yang tidak mengetahui kadar dirinya akan hancur kehidupannya. Itu sama halnya dengan seseorang yang ingin berpergian jauh tetapi tidak memiliki bekal dan persiapan yang cukup, tentu ia akan kesulitan ketika melakukan perjalanan. Maka dari itu mengetahui kemampuan sangatlah penting supaya kita dapat memaksimalkannya, tidak hanya mengikuti alur kehidupan pada umumnya -seperti yang saya tulis di artikel lain-. Strategi itu penting lebih penting dari hanya sekedar kualitas dan kuantitas, maka tidak jarang kita mendapati cerita cerita perang zaman dahulu yang bercerita tentang kemenangan pasukan yang jumlahnya lebih sedikit daripada yang dikalahkan.
Lalu bagaimana cara agar kita mengetahui passion kita? Kembali lagi ke penjelasan sekilas tentang cairan dopamin -yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya- di otak. Kita dapat menemukan kecenderungan kita pada saat kita melakukan sesuatu dan hal tersebut menyenangkan bagi kita sehingga otak menyuruh untuk melakukannya lagi dan lagi. Dari situlah kita dapat menemukan kecenderungan kita yang bisa menjadi bakat dan potensi tersembunyi. Tetapi bukan hanya kelebihan saja yang kita perhatikan, jangan lupa juga kalau setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Mereka yang mengetahui kekurangan dan kelebihannya akan lebih nyaman menjalani hidup, orang yang tidak mengetahui kekurangannya bisa kita umpamakan sebagai bayi yang mencoba berlari karena melihat anak kecil di sekitarnya juga berlari dengan asyik. Tentu ia akan terjatuh bahkan bisa jadi terluka, maka dari itu pengenalan lebih lanjut mengenai kemampuan diri itu sangat penting untuk menjadi pondasi dasar hidup. Mungkin lebih lanjut mengenai prinsip hidup akan ditulis di artikel selanjutnya.
Have a nice reading.
Sedikit cerita nih, mau minta masukan nya, selama ini aku rasa passion aku tu pada public speaking gtu, buktinya aku pernah mewakili provinsi Sumbar untuk acara debat, aku jga suka berpidato di depqn umum, dan aktif jadi MC di acara2 formal gtu,tapi aku menganggap nya hanya sekedar hobi, dan untuk masalah cita2 dari dulu aku pengen jadi hacker baik untuk melindungi negara dan menciptakan sebuah aplikasi yg populer, tpi takdir berkata lain, aku tidak lulus d jurusan yg aku impikan, dan akhirnya aku masuk sekolah kesehatan karena permintaan dari orang tua ku, awal nya sih berat tapi mau tak mau aku harus membiasakan diri, aku belajar menerima mungkin inilah takdirku, tapi aku jga gak mau terus menerus kerja d RS, akhrinya aku memutuskan nantik ambil S2 biar jadi dosen, bagaimana menurutmu? Dari pengalaman ku sendiri aku menyimpulkan antara passion, cita2, dan takdir itu gak sejalan, dan kita mau tak mau harus menjalani nya.
BalasHapusBeri masukan nya ya, terimakasih
Berbicara tentang passion.... sebenarnya passion itu memiliki 2 jenis antara wujud dan tidak berwujud. Jika public speaking adalah wujudnya maka kemampuan berbicara, mental keberanian dan beberapa hal lainnya adalah jenis passion tidak berwujud. Jadi alangkah baiknya kita mengaplikasikan passion kita entah itu yang memiliki wujud ataupun tidak kedalam kegiatan yang kita lalui sekarang mulai dari jangka pendek ataupun jangka panjang seperti cita cita.
HapusKalau passion kita bermimpi(mempunyai kemampuan bermimpi yg bagus=impian) itu termasuk passion apa? Kalau dikatakan bermimpi termasuk passion yg berwujud seperti nya tidak, kan tidak membutuhkan aktivitas fisik untuk melakukan nya, tapi kalau dikatakan bermimpi termasuk passion yg tidak berwujud, menurutku juga tidak, bukan kah kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan mimpi2 kita, so bagaimana?
BalasHapus